Pohon-pohon mulai jarang tersenyum
Daunnya gugur bukan kerana angin
Tapi kerana akar kehilangan genggaman
Di tanah yang terus digores besi
Air sungai dulu jernih bercerita
Kini hitam membawa bisu
Ikan-ikan pergi tanpa pamit
Rumput di tepi menguning menahan tanya
Langit Jakarta biru namun bukan
Kabut di sana bukan awan
Tapi asap yang enggan berlalu
Paru-paru kota mulai batuk perlahan
Aku masih ingat masa kecil dulu
Sawah di belakang rumah tempat kejar-kejaran
Sekarang jadi perumahan mewah
Dengan pagar tinggi dan taman buatan
Laut pun tak luput dari ratap
Terumbu karang memutih seperti tulang
Sampah plastik jadi tamu tak diundang
Penyu salah sangka, ubur-ubur salah paham
Hanya satu bumi yang kita punya
Dia tak bisa pindah ke alamat baru
Dia tak punya saudara kembar
Yang rela menampung segala rasa serakah
Maka sebelum benar-benar redam
Sebelum hujan tak lagi tahu musim
Ayo tanam kembali seribu harapan
Dengan satu pohon dan niat yang bersih
Biarlah anak cucu nanti
Masih bisa berlari tanpa masker
Masih bisa minum dari sungai
Dan mendengar burung berkicau
Tanpa harus mencari di buku sejarah
