Sepi ialah ayah yang
tidak banyak bertanya.
Saban hari ia tetap teguhkan
tulang belakangnya yang kian
rapuh, demi masa depanku.
Tanpa sepatah kata, tanpa gema suara
sunyi merayap perlahan, hanya ditembusi detak jantung yang lemah.
Aku kah itu, atau
derita yang berakar di jiwa?
Sepi itu barangkali
ruang kosong yang terlalu lama dibiarkan hidup,
hingga ia belajar bernafas sendiri
di celah dada manusia.
Ia hadir tanpa wajah,
namun beratnya mampu mematahkan
seluruh bahagia yang pernah tumbuh.
Kadangkala sepi bukanlah kehilangan suara,
melainkan kehilangan ruang
untuk segala rasa rebah dan luruh
tanpa perlu berpura-pura utuh.
Karya ini adalah © Hak Cipta Terpelihara WadahDBP. Sebarang salinan tanpa kebenaran akan dikenakan tindakan undang-undang.
